Menata Hati


Bila engkau seorang guru,
Kemudian engkau masuk kedalam kelas untuk mengajar. Tak lama duduk dikursi, datang seorang murid dengan napas terengah - engah. Bahkan tali sepatunya tak sempat ia ikat dengan baik. Ia terlambat masuk kelas. Lantas apa sikapmu?

Menanyakan darimana saja ia kemudian menasehatinya didepan umum?
Memberikannya hukuman?
Membiarkannya masuk tanpa menunjukkan mimik kesal?

Sebenarnya, apa yang menjadikan sikap orang berbeda-beda?
Ketahuilah, bahwa itu semua tergantung bagaimana kita menata hati. Yap, semakin rajin kita menatanya, merapikannya, membersihkannya, maka semakin baik pula dampaknya pada perilaku kita. Karena amalan adalah cerminan isi hati.


 Rasululllah bersabda:

Sesungguhnya didalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. 
(Muttafaq Alaihi)


Sayang sekali, banyak mereka yang tidak mengetahui perkara ini. Seorang ulama salaf berkata:
" Aku heran melihat mereka yang sibuk memperhatikan kebersihan dan kecantikan wajahnya, sedangkan ia lalai dari memperhatikan hati".

Inilah kenyataan yang sekarang kita dapati. Keindahan fisik yang hilang dari mulianya akhlak. Padahal ia jauh lebih utama disisi Allah. Allah katakan hati yang bersihlah kelak yang akan menjadi penolong seseorang di akhirat. Allah berfirman:


Pembaca sekalian.
Ketahuilah bahwa setiap masalah  yang terbentang dihadapan kita adalah kesempatan untuk kita berlatih menata hati. Justru semakin sering kita diuji oleh Allah, maka semakin sering pula kita dituntut untuk merapikannya. Mengapa? Karena, jika ia tidak lakukan itu, maka ia akan kehilangan pahala yang sangat besar disisi Allah. Jika ia tidak bersabar, mencela takdir, mengeluhkan Khaliq pada makhluq, maka hendaknya ia mengingat hadist Rasulullah :

((إن عظم الأجر مع عظم البلاء ))

Sesungguhnya besar pahala sesuai dengan besarnya musibah.

Maka, orang yang  menata hatinya akan bersabar, malah ia berbahagia karena imannya kepada Allah, apa itu? Bahwa dibalik setiap musibah akan ada pahala yang dilipatgandakan dan dosa-dosa yang digugurkan.

Kini timbul pertanyaan: Bagaimana cara menata hati?
Berikut penjabarannya:

1. Meminta pertolongan dari Allah Ta'ala

sungguh, ketika engkau berserah diri kepadaNya dengan sebenar-benar penyerahan maka Ia cukup bagimu. Mengapa? Bukankah Allah adalah penolong orang - orang yang beriman? Maka ini menjadi point yang paling penting.

2. Berilmu

Bagaimana seseorang dapat menata hati tatkala ditimpa musibah, sedang ia tak tahu apa keutamaan dari bersabar? Ia jahil dari sifat - sifat Allah yang mulia. Tidakkah ia membaca Al-Quran ketika bulan Ramadhan sampai selesai? Namun, sudahkah ia berhenti ayat per ayat untuk meresapi apa yang ia baca? Telah sampaikah ia pada ayat terakhir dari surat Al-Furqon:

(وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا)
[سورة الفرقان 63]

Adapun hamba hamba Tuhan yang maha pengasih itu adalah orang orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang bodoh menyapa mereka dengan kata kata yang menghina, mereka mengucapkan salam

Lihat, bagaimana hakikat hamba Allah yang sebenarnya. Ketika ada orang bodoh yang berbicara tidak baik kepadanya, ia hanya mengatakatan perkataan yang baik. Bagaimana buah tutur nan indah ini bisa diraih? Tak ada jalan lain selain menuntut ilmu. Dengannyalah ikan - ikan dilaut, semut- semut di dalam lubang mendoakan ampunan untuk mereka. Dengan ilmu lah seseorang dapat berjalan di dunia ini untuk sampai kepada tujuan akhir yaitu surga. Dengan ilmu lah hati akan menjadi lapang, menjadi bersih, menjadi lembut. Maka berilmulah terlebih dahulu. Ketahuilah sebab sebab yang dapat menghantarkan kita kepada kebeningan hati, kesucian jiwa, dan hakekat ubudiyyah.
Pernah berjalan dalam kegelapan dari kamar menuju dapur? Apakah bisa tanpa menabrak apapun? Begitulah ilmu. Ia menjadikan jalan penuh penerangan sehingga kita selamat tatkala melangkah.

3. Muhasabah Diri

Mari kita cukupkan dengan 3 point ini, karena sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit namun menuntun kita. Muhasabah dapat dilakukan sendiri atau dengan orang lain. Coba untuk mendaftar kekurangan - kekurangan kita satu persatu. Cari jalan keluarnya, dan bulatkan tekad untuk bisa merubahnya. Perlahan-lahan, agar engkau tidak jenuh kemudian berhenti untuk kembali mencoba. Dengan begitu, akan mudah bagi kita bersama untuk menata hati, in syaa Allah.

Jakarta 18/04/19
Aozora.F

Komentar

Postingan Populer